Daster Power: Petualangan Emak-Emak Rempong

 

Bu Laras, sang ratu rumah tangga di kompleks Melati, punya pusaka andalan: daster bunga-bunga warna ungu yang sudah menemani suka duka sejak Adzril lahir. Daster itu bukan sembarang daster; ia adalah jubah kebesaran yang menandakan dimulainya mode rempong alias mode siaga emak-emak.

Pagi itu, hari dimulai dengan skenario khas: teriakan "Bunda, susu!" dari Adzril, suara panci gosong di dapur, dan notifikasi grup WA ibu-ibu komplek yang minta sumbangan dadakan. Bu Laras, dengan daster ungu kebanggaannya, melesat bagai The Flash.

Misi pertama: Sarapan Anti-Drama. Bu Laras tahu, membuat Adzril makan dengan tenang adalah salah satu keajaiban dunia. Kali ini, ia mencoba jurus "pesawat terbang" dengan sendok berisi nasi goreng, berakhir dengan nasi mampir ke rambut Adzril. "Astaga, Nak! Mau jadi Power Ranger rambut nasi?" gurau Bu Laras sambil menghela napas pasrah.

Setelah drama sarapan usai, giliran Misi Setrika Gunung Himalaya. Tumpukan baju di keranjang sudah menjulang setinggi gunung, seolah menantang Bu Laras untuk menaklukkannya. Dengan keringat bercucuran dan iringan lagu dangdut koplo dari radio, Bu Laras menyetrika sambil berjoget kecil. Tak sadar, daster ungunya ikut bergoyang-goyang, nyaris menyangkut setrika panas. "Hampir! Daster kesayangan jangan sampai korban!" gumamnya panik.

Siang hari, ketenangan sempat singgah. Bu Laras memutuskan untuk menikmati secangkir kopi hangat di teras. Baru saja menyesap kopi, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. "Bu Laras! Ada arisan!" teriak Bu RT dari gerbang. Bu Laras yang masih berbalut daster ungu, langsung panik. Lupa kalau hari ini jadwal arisan bulanan!

Dengan kecepatan kilat, Bu Laras melesat ke kamar. Daster ungu itu dicopot, diganti dengan gamis instan yang selalu siap sedia. Tapi apes, saat ingin mengambil dompet, ia tersandung kaki kursi dan hampir jatuh. Untungnya, refleks seorang emak-emak sudah terlatih. Ia berhasil menjaga keseimbangan, namun dompetnya melayang dan isinya berserakan di lantai. Kartu member supermarket, nota belanja, sampai foto KTP lama yang mukanya bikin ngakak sendiri. "Ya ampun, Bu Laras, arisan ini memang cobaan!" ujarnya sambil buru-buru memunguti barang-barang.

Pulang dari arisan, Bu Laras kembali mengenakan daster ungunya. Rasanya, daster itu memang paling nyaman untuk mode "pasrah menerima keadaan". Sambil menikmati sisa hari yang mulai teduh, Bu Laras berpikir, "Daster ini memang saksi bisu semua kekacauan dan kebahagiaan rumah tangga. Hidup emak-emak rempong memang penuh kejutan, tapi seru juga!" Ia tersenyum, siap untuk petualangan daster power esok hari.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untukmu, Cintaku yang Tak Henti

Mencari Sahabat yang Hilang

Dunia Tanpa Suara