Iren, Si Ratu Sehari-hari yang Anti Loyo

 

Di sebuah rumah di Jambi yang selalu ramai tapi (relatif) tertib, tinggallah Iren, seorang ibu super dengan senyum anti badai. Baginya, hari-hari itu seperti naik rollercoaster: seru, bikin deg-degan, tapi selalu ada kejutan menyenangkan di ujungnya.

Pagi buta, sebelum ayam tetangga berkokok terlalu heboh, Iren sudah aktif seperti ninja. Misinya adalah membuat Adzril, sang jagoan kecilnya, siap tempur untuk sekolah. Dimulai dari membangunkan Adzril dengan jurus "cium pipi maut" yang selalu berhasil, menyiapkan seragam yang sudah disetrika licin (walaupun kadang Adzril tetap berhasil membuatnya kusut dalam lima menit), sampai menyiapkan bekal yang isinya selalu jadi misteri menyenangkan (kadang nasi goreng bentuk beruang, kadang roti isi cokelat yang lumer-lumer).

"Adzril, jangan lupa bukunya!" teriak Iren sambil mengejar Adzril yang sudah meluncur ke pintu dengan sepatu belum terpasang sempurna. Begitulah setiap pagi, seperti adegan film action yang selalu berakhir bahagia di depan gerbang sekolah.

Siangnya, Iren kembali beraksi sebagai supir pribadi Adzril. Tapi misi kali ini sedikit berbeda. Pulang sekolah, Adzril punya agenda tetap: bermain di perosotan SD bersama Alby, Dhila, dan Rasya. Iren dengan sabar menunggu di pinggir lapangan, sesekali ngobrol dengan ibu-ibu lain yang senasib. Sambil menunggu, Iren diam-diam melakukan stretching ringan, biar badan tetap lentur walau seharian jadi multitasking mom.

Nah, sebelum pulang, ada ritual wajib yang tak bisa diganggu gugat: mampir ke mini market sekolah. Mata Adzril langsung berbinar melihat jejeran es krim dan jajanan warna-warni. Iren hanya bisa menarik napas panjang sambil tersenyum. "Oke deh, hari ini boleh satu es krim, tapi besok sayur ya, Nak," negosiasinya selalu berakhir damai (demi menghindari drama tangisan di depan kulkas).

Begitulah hari-hari Iren, penuh dengan rutinitas yang kadang bikin lelah, tapi selalu diwarnai dengan celotehan lucu Adzril dan tingkah polah teman-temannya. Tapi Iren bukan robot! Kadang, di sela-sela kesibukan, ia merindukan waktu untuk "me time".

"Duh, pengen ngopi cantik deh sama Dinda," gumamnya suatu siang sambil menyetrika gunung pakaian. Atau, "Kayaknya badan butuh diisi jamu biar nggak kemresek kayak radio rusak."

Untungnya, Iren punya trik jitu untuk mengisi ulang baterainya. Malam hari, setelah Adzril terlelap dan rumah mulai sunyi, Iren biasanya menyeduh teh hangat, mengambil laptop kesayangannya, dan mulai menjelajahi dunia Netflix. Kadang ia tertawa sendiri menonton komedi romantis, kadang terharu menonton film dokumenter tentang alam.

Selain itu, Iren juga punya "dunia rahasia" di blog atau Medium-nya. Di sana, ia mencurahkan segala uneg-uneg, berbagi cerita lucu tentang kehidupan sehari-hari, atau sekadar menulis puisi iseng. Menulis baginya seperti terapi gratis yang selalu berhasil membuatnya merasa lebih ringan.

Walaupun kadang merasa seperti wonder woman yang harus membereskan segala urusan, Iren tidak pernah kehilangan semangat. Baginya, melihat Adzril tumbuh sehat dan bahagia, rumah yang nyaman, dan dirinya sendiri tetap waras (itu bonus terbesar!), adalah sumber energi yang tak pernah habis.

"Semangat, Iren! Besok pasti ada kejutan seru lainnya!" bisiknya setiap malam sebelum tidur, siap menyambut hari esok dengan senyum secerah matahari Jambi. Karena bagi Iren, setiap hari adalah petualangan yang sayang untuk dilewatkan, walau kadang petualangannya hanya seputar mencari tutup tupperware yang hilang atau memberantas sarang laba-laba di pojokan kamar. Yang penting, dijalani dengan hati riang!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untukmu, Cintaku yang Tak Henti

Mencari Sahabat yang Hilang

Dunia Tanpa Suara