Mencari Sahabat yang Hilang
Dua puluh tahun. Dua dasawarsa. Itu bukan hitungan yang sebentar untuk sebuah persahabatan. Bagi Nara, Tiara bukan sekadar teman, tapi cerminan dirinya di masa lalu, saksi tawa dan tangis yang tak terhitung, bank rahasia yang paling aman. Dulu, hampir setiap hari mereka bertukar kabar, kadang hanya sekadar "udah makan belum?", kadang panjang lebar membahas drama hidup yang tak ada habisnya. Sesekali, mereka bertemu, entah untuk sekadar ngopi atau cari makan di tempat baru. Tapi anehnya, setiap kali mereka janjian makan, Tiara selalu pulang dengan keluhan sakit perut. Awalnya Nara pikir itu kebetulan, atau mungkin Tiara memang punya perut yang sensitif.
Namun, belakangan ini, ada yang terasa kosong. Tiara menghilang. Bukan menghilang secara fisik, tapi dari dunia Nara. Pesan singkat tak berbalas, panggilan tak terangkat. Dan yang paling terasa janggal adalah hilangnya story Instagram Tiara. Biasanya, akun itu selalu ramai dengan potret keseharian Tiara yang ceria, atau paling tidak meme-meme receh yang bikin Nara senyum sendiri. Tapi kini, sepi. Kosong.
Nara tahu, ada benang merah di balik keheningan ini. Ada kesalahan yang pernah ia perbuat, kesalahan yang mungkin tidak disadarinya saat itu, tapi kini terasa menggigit. Apakah itu karena ia selalu memaksa Tiara mencoba makanan-makanan baru yang pedas atau aneh-aneh, mengabaikan keluhan sakit perut Tiara yang berulang setiap kali mereka makan bersama? Apakah ia terlalu fokus pada ceritanya sendiri, lupa menanyakan beban yang mungkin dipikul Tiara? Nara tak pernah menghubungi Tiara duluan semenjak sahabatnya itu bagai lenyap ditelan bumi. Sebuah kebisuan yang disengaja, dibalut ego dan rasa bersalah yang belum berani ia hadapi.
Kabar terakhir yang Nara dengar, samar-samar dari teman yang lain, sungguh menyayat hati. Anak Tiara sedang sakit, dan Tiara sendiri juga sedang berjuang melawan penyakitnya. Di tengah semua itu, ia harus mengurus rumah sendirian. Beban yang begitu berat, dan Nara, sebagai sahabat 20 tahun, malah menghilang dari sisinya, persis seperti Tiara menghilang dari hidup Nara. Sebuah ironi yang pahit.
Waktu berlalu. Nara tidak lantas kesepian. Justru kini lingkup pertemanannya semakin luas. Ia kembali terhubung dengan teman-teman SD yang dulu suka main petak umpet, teman-teman SMP yang pernah sama-sama bolos pelajaran, dan teman-teman SMA yang sering nongkrong di kantin. Mereka sesekali bertemu, berbagi cerita, tertawa lepas. Lingkaran sosial Nara kini penuh warna, ramai, dan terasa menyenangkan.
Namun, semua itu tidak mengubah apa pun. Tidak ada tawa yang bisa mengisi kekosongan yang Tiara tinggalkan. Tidak ada cerita baru yang sehangat obrolan dua puluh tahun. Tiara tetap menghilang. Seperti ada sebuah halaman penting dalam buku hidup Nara yang tiba-tiba tercabut, meninggalkan lubang menganga yang tak bisa ditambal oleh pertemanan baru. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benak Nara, tak pernah berhenti menggema: Apa kabar Tiara? Bisakah persahabatan yang hilang ini ditemukan lagi? Dan apakah ia, Nara, punya keberanian untuk memulai pencarian itu?
Komentar
Posting Komentar