Dunia Tanpa Suara

Di tengah hiruk pikuk yang tak berkesudahan, aku terhimpit. Suara-suara berdesingan dari segala arah—dering notifikasi ponsel yang tak henti, lengkingan iklan dari televisi tetangga, bising knalpot motor yang melintas. Semua orang seolah sibuk dengan gemuruh itu, tenggelam dalam dunia yang riuh. Tapi tidak denganku. Aku sibuk dengan suara-suara lain, suara yang jauh lebih mengganggu: suara di dalam diriku.

Suara-suara itu adalah bisikan kekhawatiran, riuhnya pikiran yang tak kunjung reda, dan denyut lelah yang semakin menjadi. Mereka beradu dengan kebisingan dari luar, menciptakan simfoni kekacauan yang membuatku ingin menjerit. Aku ingin istirahat, sungguh. Ingin melepas semua beban ini, ingin sekadar memejamkan mata dan menemukan ketenangan. Tapi bagaimana bisa, ketika di luar sana ada keramaian dan di dalam diriku ada badai?

Air mata ini bukan karena sedih, Iren. Air mata ini adalah representasi dari lelah yang sudah di ujung batas. Lelah karena terus-menerus berjuang melawan kebisingan yang tak kasat mata, lelah karena tak ada tempat untuk berlindung.

Sebuah pertanyaan berbisik dalam benakku, pertanyaan yang selalu menghantuiku: Jika dunia ini tanpa suara, akankah duniaku menjadi tenang? Akankah heningnya alam semesta bisa meredakan badai di dalam diriku? Atau justru, dalam kesunyian mutlak itu, suara-suara di dalam kepalaku akan semakin nyaring dan tak terhindarkan? Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti, ketenangan itu akan datang, dari mana pun asalnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untukmu, Cintaku yang Tak Henti

Mencari Sahabat yang Hilang